Raindrop Pointer Kelompok 4 Smepanesa 8e: masyarakat
Tampilkan postingan dengan label masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masyarakat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Oktober 2018

Bola Voli Yang Ada Di Desa Tawing Kecamatan Munjungan


Tempatnya Didesa tawing kecamatan munjungan kabupaten trenggalek yang bertempatkan dibelakang kantor desa tawing telah diadakan pertandinga bola voli antar club yakni yang diikuti oleh 3 kota yaitu trenggalek,ponorogo,dan tulungagung

pertandingan ini dimulai pada tanggal 12 oktober 2018 yang pembukaanya diadakan sambutan dari lurah desa tawing dan dilanjutkan dengan penyalaan kembang api yang sangat meriah.

 Dan sampai sekarang masih berjalan dengan lancar . Harga tiket masuknya pun sangat murah yakni Rp. 5000/orang  tetapi semakin kefinal harga tiket menjadi Rp. 8000/orang ,tetapi dan fasilitas fasilitas disana juga bagus seperti tersedianya tempat duduk, tempat penenduh, dan kantin kantin yang menjual beraneka ragam kopi dan makanan.

Selasa, 30 Oktober 2018

Asal Usul Kesenian Tari Gandong



Kesenian tari gandong merupakan kesenian asli Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Hingga saat ini kesenian tari gandong tetap terjaga kelestariannya di Desa Bangun, Kecamatan Munjungan.
Tari Gandong terkenal sangat unik, selain para pemain terdiri dari kaum lelaki, pakaian yang dikenakan para pelaku kesenian serba hitam layaknya seorang warok Ponorogo. Namun, tidak mengunakan ikat kepala (udeng) akan tetapi memakai caping gunung khas adat desa.
Alat musiknya tradisional dan sangat sederhana, hanya terdiri dari gendang, gong, angklung dari bambu dan kentongan serta lesung atau tempat menumbuk padi ala zaman dulu.
Salah satu pewaris tari Gandong, Sukir (66) sekaligus sesepuh Desa Bangun mengatakan, kreasi lama tradisi tari Gandong merupakan warisan leluhur dan harus dilestarikan. Tari tersebut mulai dikembangkan pada tahun 1972.
“Kami salah satu pewaris tari Gandong keturunan lima, kemudian dikembangkan dan dilestarikan hingga sampai sekarang. Pada tahun 1985 juga pernah mendapat penghargaan dari Bupati Trenggalek berupa sertifikat,”
Dipaparkan, asal muasal tari Gandong berawal dari kisah legenda zaman Mataram. Pada saat itu Desa Bangun pernah didatangi seorang prajurit Mataram bernama Panji Asmoro. Dia datang dan menetap, untuk selanjutnya melakukan tapa brata (bertapa).
“Tempat pertapaan sekaligus menjadi pemakaman Panji Asmoro hingga sekarang masih ada di Dusun Parang Desa Bangun yang terkenal dengan nama Andong Puring,” kata Sukir.
Prajurit Mataram Panji Asmoro akhirnya menetap di desa Bangun dan berganti nama menjadi Panji Asmoro Bangun. Sejak itu tari Gandong mulai ada.
Menurut cerita, tari Gandong sebuah tari jogetan yang mengikuti irama yang dibunyikan melalui kentongan dan diikuti gamelan tradisional lain, sehingga menimbulkan suara merdu.
Kentongan dulunya hanya sebuah alat komunikasi untuk mengumpulkan masyarakat. Karena cara membunyikannya sambil berjoget tangan mengikuti irama, tercetuslah tari Gandong sampai sekarang.
“Nama Gandong, berasal dari kentongan digantung dan apa bila dipukul akan bergerak kesana kemari (gandul-gandul) dan akan mengeluarkan suara dong-dong. Dari perpaduan antara gandul-gandul dengan dong, maka dinamakan tari tersebut tari Gadong,” pungkas Sukir.

Tradisi Sedekah Laut Longkangan


Longkangan merupakan upacara adat masyarakat dan nelayan Munjungan. Upacara adat ini dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, atas melimpahnya tangkapan hasil melaut. Tradisi ini juga berfungsi peringatan kepada leluhur yang membuka kawasan Munjungan utamanya Rara Puthut yang konon oleh Ratu Pantai Selatan dipercaya menguasai kawasan Pantai Ngampiran, Blado, Sumbreng, dan Ngadipuro Munjungan. Adat Longkangan ini rutin diperingati di Pantai Blado yang terletak di desa Munjungan kecamatan Munjungan. Pantai ini terletak di 49 km arah Selatan dari kota Trenggalek, ± 230 km dari Surabaya.
Waktu pelaksanaan sedekah laut Longkangan ini dilakukan tiap Selo penanggalan jawa, tepatnya pada hari Jum'at Kliwon. Upacara adat ini biasa dilakukan pada siang hari menjelang sore. Dengan diawali kirab Tumpeng Agung dari Pendopo Kecamatan Munjungan sampai di Pantai Blado yang dipimpin langsung oleh Camat Munjungan dan semua Kepala Desa se Kecamatan Munjungan. Kirab ini diiringi oleh dayang-dayang serta rombongan jaranan yang berpakaian adat Jawa. Sesampainya di Pantai Blado prosesi Longkangan dimulai. Seperti Labuh larung sembonyo, dalam tradisi longkangan ini juga wajib ada kesenian tayub untuk pelengkap prosesi ini.
Dipastikan setiap Longkangan ini digelar, masyarakat Munjungan dan sekitarnya maupun wisatawan selalu berduyung-duyung menyaksikan upacara adat ini. Baik di sepanjang jalan yang dilewati rombongan kirab maupun dilokasi upacara adat ini. Sebagai puncak acara adat longkangan ini dilakukannya prosesi menghanyutkan Tumpeng Agung di tengah lautan Pantai Blado.Tahun 2016 ini tradisi longkangan ini diselenggarakan pada Hari Jum'at Kliwon tanggal 02 September 2016 di Pantai Blado.
 H Moch. Nur Arifin Wakil Bupati Trenggalek nampak hadir dalam Longkangan ini. Kehadiran Wakil Bupati Trenggalek ini didampingi istri Novita Hardini, Forkopimda dan beberapa pejabat di lingkup Pemkab Trenggalek. Dikonfirmasi mengenai Longkangan ini Wakil Bupati Trenggalek menyampaikan bahwa hal ini menunjukkan bahwasannya di Trenggalek utamanya di masing-masing daerah mempunyai sejarah yang akrab dengan ritual-ritual suci. Salah satunya longkangan ini. Yang jelas acara seperti ini perlu kita lestarikan, pasalnya Trenggalek ada karena memang sejarahnya seperti ini. Ini merupakan bentuk perwujudan rasa syukur masyarakat, saya harap Allah berkenan memberikan keselamatan dan kemakmuran khususnya Munjungan dan Kabupaten Trenggalek"